Palembang - Demi menunjukkan indentitas Palembang yang Islami. Dinas Kebudayaan Palembang gagas tarian sambut Palembang Darussalam. Rencananya tarian ini sebagai penganti tari sambut sebelumnya. Palembang yang mayoritas penduduk beragama Islam, kata Sudirman, sudah saatnya memiliki tarian sendiri. Yang gerakan, lagu atau musik pengiring dan pakaian penari bernuansa Islami.

"Selama ini kalau ada tamu atau penyambutan pakai tari Gending Sriwijaya, atau tari Tanggai.  Padahal tarian itu bukan adat istiadat kita,  mulai dari gerakan, pakaian penari dan musik dalam tari Gending Sriwijaya indentik dengan ajaran Hindu-Budha," jelas Kepala Dinas Kebudayaan  Palembang, Sudirman Teguh, Minggu (12/03/2017).

Oleh karena itu, lanjut Sudirman, Palembang dengan mayoritas penduduk beragama Islam, sudah saatnya memiliki tarian sendiri, baik gerakan, lagu atau musik pengiring dan pakaian yang dipakai penari bernuansa Islami

"Kalau ditanya bagaimana gerakkannya saya tidak tahu, saya bukan ahli tari, seniman atau budayawan. Tapi kami dari Kebudayaan mendiskusikan dengan alhi tari, seniman atau budayawan, mereka 1000 persen mendukung. Mereka yang lebih paham. Nanti kita lombakan untuk cipta tari Sambut Palembang Darussalam ini. Perlombaan tersebut akan digelar setelah pemilihan Duta Budaya, sekitar akhir  bulan April mendatang," jelasnya.

Maka,  tari Sambut Palembang Darussalam akan diperkenalkan ke masyarakat luas, termasuk di pelajari di sekolah-sekolah.   Lalu, bagaimana nasib tari Gending Sriwijaya? Dikatakan Sudirman, tarian ini tetap ada namun untuk dipakai oleh Pemerintah Provinsi  Sumsel.

"Tari Gending Sriwijaya nanti ditarik oleh Pemprov Sumsel. Dan tari Sambut Palembang Darussalam akan diatur dalam Peraturan Daerah," tuturnya

Ketua Dewan Kesenian Palembang, Vebri Al-Lintani mengatakan bahwa tari  Gending Sriwijaya dibuat untuk menyambut pemerintah Jepang, pertama kali ditarikan di depan Masjid Agung tujuh hari sebelum kemerdekaan.  Setelah itu tari ini menjadi tari sambut di Sumsel.

Diceritakan Vebri, gerakan tari ini diciptakan oleh Tina Haji Gong dan Sukainan A Rozak. Lagu Gending Sriwijaya adalah lagu Sriwijaya Jaya yang dicipkan oleh  A Dahlan M. Sedangkan syair lagu Gending Sriwijaya diciptakan oleh tim yang diketuai oleh Nungtjik AR, ketika itu menjabat sebagai Kepala Kantor Hadohan (Departeman Panerangan Jepang).

Namun, pada 1965 PKI meletus karena Nungtjik AR,  pencipta syair lagu Gending Sriwijaya terlibat PKI,  setelah itu hampir beberapa lama tari ini tidak mainkan, untuk menutupi tari sambut, maka gerakan tari Gending Sriwijaya lagunya diganti lagu  Enam Bersaudara, jadilah tari Tanggai yang sering ditarikan saat acara pernikahan. Tari  Gending Sriwijaya kemudian dimantapkan sebagai  tari sambut tamu agung, sedangkan tari Tanggai untuk tamu biasa," jelasnya.

Adapun terkait gagasan tari sambut baru, Vebri mendukung penuh. Menurutnya Palembang sebagai daerah otonom harus memiliki tari sendiri, makanya nilai-nilai yang ada bukan dari Kerajaan  Sriwijaya tetapi nilai-nilai Palembang Darussalam yang Islami. Kita harus punya tari yang lebih menjiwai.

"Sebenarnya kami sudah membicarakan ini sudah lama, sejak pemerintahan sebelumnya, alhamdulillah sekarang Dinas Kebudayaan Palembang merespon baik. Bahkan saat ini sudah mengumpulkan ahli-ahli tari," tutupnya.